KapurTulis

baiu

  • 11:03:30 pm on Oktober 2, 2007 | # | 1
    Tag:, , ,

    Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.
    Build me a son whose wishes will not take the place of deeds; a son who will know Thee—and that to know himself is the foundation stone of knowledge.

    Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.

    Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high; a son who will master himself before he seeks to master other men; one who will learn to laugh, yet never forget how to weep; one who will reach into the future, yet never forget the past.

    And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously. Give him humility, so that he may always remember the simplicity of true greatness, the open mind of true wisdom, the meekness of true strength.

    Then, I, his father, will dare to whisper, “I have not lived in vain”

    by General Douglas MacArthur

    Written during the early days of desperate campaigns in the Far East in World War II, as a spiritual legacy to his son, Arthur.

     

    Terjemahan bahasa Indonesia:

    Tuhanku….
    Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui ketika ia lemah, dan cukup berani menghadapi dirinya sendiri ketika ia takut; Manusia yang bangga dan teguh dalam kekalahan, jujur dan rendah hati serta berbudi halus dalam kemenangan.

    Bentuklah putraku menjadi manusia yang hasratnya tak pernah mati; Putra yang selalu mengingat Engkau–dan bahwa mengenal dirinya sendiri adalah landasan pengertian/pengetahuan.

    Tuhanku…
    Bimbinglah ia bukan di jalan yang mudah dan lunak, melainkan di bawah tekanan dan desakan kesulitan dan tantangan. Didiklah putraku supaya teguh berdiri di atas badai; serta berbelas kasih terhadap mereka yang gagal.

    Bentuklah putraku menjadi manusia yang hatinya jernih, yang cita-citanya tinggi; putra yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum berhasrat memimpin orang lain; putra yang belajar tertawa namun tak pernah lupa bagaimana mencucurkan air matanya; putra yang selalu menjangkau masa depan namun tak pernah melupakan masa lampau.

    Setelah ini menjadi miliknya, aku mohon, berikan ia perasaan jenaka, agar ia dapat bersungguh-sungguh tanpa menganggap dirinya terlampau serius. Berilah juga ia kerendahan hati, sehingga ia selalu mengingat kesederhanaan dari keagungan sejati, akal budi kebijaksanaan, kelembutan dari kekuatan sejati.

    Dengan demikian, aku, ayahnya, akan memberanikan diri berkata, “Hidupku tidaklah sia-sia.”