baiu
-
05:24:08 pm on Oktober 6, 2007 | # |
Pagi itu di penghujung musim panas, cuaca tampak cerah dengan sinar matahari yang tembus melewati jendela kamar. Matanya menyipit oleh sinar itu, membuatnya kembali ke kehidupan nyata.
Jadwal kuliah hari ini dari pagi sampai kira-kira tengah hari nanti. Persediaan dan bahan-bahan makanan pun hampir habis, itu artinya selesai kuliah ia harus belanja. Dengan sedikit malas, lelaki muda itu bangkit dari kasurnya.
Ia menunggu bus di halte yang tak jauh letaknya dari tempat ia tinggal. Beberapa menit kemudian, bus pun tiba. Pintu depan dibuka, ia lalu naik dan hendak membayar ongkos satu euro kepada sang sopir. Sopir itu menyapanya, “Goede morgen![1]” “Morgen, Meneer![2]” sahutnya.
Setelah tiba, ia langsung menuju ruang kuliahnya. Hampir pukul sepuluh, ia datang sedikit lebih awal dari yang dijadwalkan. Para koleganya pun sudah ada di ruangan itu. “Good morning!” ia menyapa mereka. Mereka membalas dengan salam serupa. Tak lama, guru yang ditunggu datang. “Hello, good morning everyone!” guru itu memberi salam. Semua siswa pun menyapanya kembali.
Pukul setengah satu siang, kuliahnya selesai. Hari masih panjang dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Lagipula, ia ingat harus membeli bahan-bahan makanan. Kebetulan hari ini ada openmarkt (pasar) di pusat kota. Letak pasar itu tak jauh dari tempat studinya. Di sini, pasar tidak buka setiap hari, tetapi hanya dua kali seminggu.
Di pasar, ia mencari buah dan daging tetapi tidak banyak. Ketika ia mendekati salah satu kios, seorang penjual di kios itu bertanya seperti kepada pembeli lainnya, “Goede middag! Kan ik u helpen?[3]” Ia membayar barang yang dibelinya. “Dank u wel en fijne dag![4]”
Kemudian, ia pergi ke supermarket. Beberapa minuman dibelinya di sana untuk persediaan di rumah. Di kasir, setelah membayar dan ingin pulang, petugas kasir berkata, ”Dank u wel! Tot ziens.[5]”
Setahun yang lalu, anak muda itu tiba di negeri Belanda. Ia baru saja lulus sekolah menengah dan melanjutkan studinya di sebuah Hogeschool[6] di sana. Saat itu, kata-kata sapaan dari orang-orang yang tak dikenalnya–sopir bus, para penjual di pasar, dan petugas kasir–masih terdengar asing di telinganya.
Ia dilahirkan dan dibesarkan di negeri yang berbudaya timur. Di negeri itu, penduduknya ramah-tamah–setidaknya, itu pendapat para turis dahulu. Namun, ia sendiri heran bahwa di negeri yang menanamkan nilai-nilai keramahtamahan, ia tak terlalu sering mendengar ucapan “selamat pagi”, “sampai jumpa”, dan “terima kasih” dari orang-orang seperti itu. Masihkah predikat ‘penduduknya yang ramah’ layak disematkan pada negeri asalnya?
[1] Selamat pagi!
[2] Selamat pagi, Pak!
[3] Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu ?
[4] Terima kasih. Semoga hari Anda menyenangkan (Have a nice day–Inggris).
[5] Sampai jumpa.
[6] Sekolah tinggi/universitas ilmu-ilmu terapan (university of applied science)Enschede 1007 (c) Bhayu Prasetya



jhjhjkhkjhkj 1:59 am on 9 Desember 2007 | #
bagus sekali