KapurTulis

baiu

  • 08:17:48 pm on Oktober 13, 2007 | # | 0
    Tag:, , ,

    Huh… akhirnya, akhir pekan yang ditunggu datang juga. Setelah sejak pagi disibukkan dengan kuliah, tiba saatnya kulampiaskan seluruh hasrat untuk bersantai meski hanya beberapa hari saja.

    Televisi di ruang keluarga kunyalakan, salah satu stasiun sedang menyiarkan program kuis SMS. Seorang wanita pembawa acara, yang biasanya menjadi bahan perbincangan pria-pria berkhayalan tingkat tinggi, menyebutkan nomor handphone seseorang yang mendapatkan hoki dalam acara tersebut.
    “Nomornya 081xxx (kosong delapan satu sekian sekian…). Selamat kepada Anda yang beruntung!” katanya.

    Aku ingat ketika teman-teman saling menanyakan nomor telepon–entah itu telepon rumah maupun ponsel.
    Catet ya! Kosong delapan satu…”

    Dalam lingkungan kampus, ketika seorang ditanya nomor mahasiswanya–misalnya 98310, ia akan menjawab, “Sembilan, delapan, tiga, satu, kosong.”

    Ketika menonton siaran sepakbola dan komentatornya berbahasa Indonesia, ia mungkin saja berkata, “Kedudukan sementara masih imbang kosong kosong (0-0) bagi kedua tim.”

     

    Uniknya, Meskipun sudah sejak sekolah dasar (SD) kita mengenal bahwa angka ‘0’ dibaca ‘nol’, masih saja ada dan senang yang menyebutnya dengan ‘kosong’. Fakta yang aneh dan menarik, bukan?

    Kata ‘kosong’ dipakai ketika kita menyatakan situasi yang tanpa suatu apapun; tidak ada; nihil. Namun, ‘nol’ sudah seharusnya dipakai untuk menyatakan angka atau bilangan dengan simbol ‘0’. Sebagai perbandingan, bahasa Inggris (Oxford Advanced Dictionary) menyebut ‘0’ dengan zero atau terkadang nil dalam bidang olahraga, sedangkan ‘kosong’ dengan empty.


    Nah, sekarang coba Anda sebutkan angka desimal, misalnya 0,75! Ada yang menyebutnya dengan ‘kosong koma tujuh lima’?

    1007 (c) Bhayu Prasetya

     

Leave a Comment