baiu
-
11:20:15 pm on Februari 8, 2008 | # |
Sekali waktu, pernah kudengar lagu ini:
“Big Yellow Taxi”-Counting Crows ft. Vanessa Carltondiambil dari YouTubeThey paved paradise and put up a parking lot
With a pink hotel, a boutique, and a swingin’ hot spot
Don’t it always seem to go
That you don’t know what you got ’til it’s gone
They paved paradise and put up a parking lotThey took all the trees, and put ‘em in a tree museum
And they charged the people a dollar and a half to see them
No, no, no
Don’t it always seem to go
That you don’t know what you got ’til it’s gone
They paved paradise, and put up a parking lotHey farmer, farmer, put away your DDT
I don’t care about spots on my apples,
Leave me the birds and the bees
Please
Don’t it always seem to go
That you don’t know what you got ’til it’s gone
They paved paradise and put up a parking lot
Hey now, they paved paradise to put up a parking lot
Why not?Lagu itu kudengar dan kunikmati. Kemudian, kucari liriknya dan kuperhatikan. Yah, isinya menyinggung keadaan lingkungan kita, aku dan kalian, berada.
Tak usah jauh-jauh, cukup perhatikan di negeriku saja, Indonesia. Sering aku dengar berita penebangan liar dan kebakaran hutan, pembabatan lahan kosong, dan perombakan taman kota menjadi gedung bertingkat maupun kompleks perumahan elit. Dengan kata lain, alam telah diubah oleh manusia-manusia yang tak sayang dirinya sendiri.
Lho, kenapa dirinya sendiri dan bukan lingkungan? Apapun yang terjadi setelah ekosistem dalam lingkungan tak seimbang, manusialah yang akan “menikmati” dampaknya. Salah satunya mungkin saja banjir dan pencemaran pada makanan akibat pestisida (DDT) berlebih. Bisa juga terjadi bencana berkepanjangan yang sedang hangat dibicarakan: pemanasan global!
Lahan kosong di negeri ini sepertinya tidak bisa dibiarkan dan ditata dengan baik. Lahan yang dinilai memiliki harga jual tinggi dibisniskan untuk meraup keuntungan. Semua hanya untuk memperoleh uang. Pebisnis mana yang tak berpikir tentang uang? Memang, tak semua pebisnis itu buruk. Hanya mereka yang tak memikirkan dampak jangka panjangnya saja yang tak kusuka.
Manusia memang tak langsung merasakan akibatnya. Semua ada prosesnya, ada waktunya. Ketika waktu itu tiba dan dampaknya tak dapat dihentikan, sudah terlambat untuk kita sesali.
Pepohonan ditebangi, hutan dibakar, tak ada lagi taman kota. Semua berubah menjadi bangunan-bangunan simbol kemajuan zaman. Pusat pertokoan, mal, hotel, dan gedung pencakar langit kini berdiri di atas lahan itu.
Kini, semua panik dengan isu pemanasan global. Kadar karbondioksida pada atmosfer bumi telah melampui batas. Efek rumah kacalah akibatnya. Suhu bumi naik sehingga gunung es kutub utara perlahan meleleh. Penyakit kulit akibat radiasi matahari dan panas berlebih mulai menyebar.
Berbagai perwakilan negara telah berkumpul dalam suatu konferensi perubahan iklim. Cukupkah sebuah konferensi menghambat kenaikan suhu bumi? Tidak, jika mereka terus saling tunjuk pihak yang bertanggung jawab tanpa kesepakatan atas kesadaran bersama.
Kesadaran! Itulah kuncinya. Bila setiap orang, kita-aku dan kalian-tak punya kesadaran perilaku kita terhadap lingkungan, semua usaha akan sia-sia. Maka, sadarlah!
Bila perubahan lingkungan dilakukan semata-mata karena uang, mampuslah kita. Organisasi internasional Greenpeace pernah menulis dalam newsletter-nya edisi September 2007:
Ketika pohon terakhir tumbang, sungai terakhir tercemar, dan ikan terakhir ditangkap, kita akan menyadari bahwa uang tidak bisa kita makan.
Tak ada kata terlambat untuk menata lingkungan selama kesadaran itu masih kita miliki.
“Don’t it always seem to go/You don’t know what you got ’til it’s gone“
Kita tak pernah tahu betapa berharganya yang kita miliki sebelum kita kehilangannya.Enschede-0208 (c) Bhayu Prasetya



AleAdr 5:43 am on 9 Februari 2008 | #
Bhay!
Kesadaran memang menjadi kunci. Tapi menumbuhkan kesadaran kepada seseorang susah. Apalagi banyak orang.
Semoga banyak yang membaca blog ini supaya kesadarannya tergugah.
AleAdr
byprast 12:40 pm on 9 Februari 2008 | #
Makanya Lex..
3 thn di JB apa aja yg u dapet?
Competence
Compassion
Conscience
ya tho..
Ad Maiorem Dei Gloriam