baiu
-
10:41:08 pm on Maret 2, 2008 | # |
Setiap tahun, lulusan sarjana (S1) di setiap perguruan tinggi di Indonesia bertambah. Pertambahan jumlah pemegang ijazah sarjana belum tentu diikuti pertambahan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Mereka yang lulus tidak serta merta langsung bekerja di perusahaan incarannya. Tidak jarang pula, mereka harus menunggu bertahun-tahun sebelum diterima kerja di sebuah perusahaan. Dengan kata lain, pengangguran di Indonesia pasti ada tiap tahunnya.
Di lain pihak, dunia industri di Indonesia menginginkan tenaga kerja yang tak hanya memiliki ilmu di bidangnya, tetapi juga kemampuannya yang tak dimiliki setiap orang yang mendukung ilmunya. Nilai lebih itulah yang dicari dunia industri. Itu pula sebabnya dunia industri lebih menginginkan individu yang telah berpengalaman di bidangnya. Jarang ada fresh graduate sebuah perguruan tinggi dalam negeri langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan terkemuka.
Kenapa lulusan luar negeri lebih mudah diterima di dunia industri? Adakah yang kurang dengan lulusan dalam negeri? Kalau ya, apa itu? Siapa yang salah?
Bila kita terus berkutat pada pertanyaan-pertanyaan macam itu, masalah tak akan selesai dalam semalam. Saya ingin melihat fakta yang ada dari 2 sisi pendidikan, dari pihak lembaga pendidikan tinggi dan peserta didiknya (mahasiswa).Perguruan tinggi di Indonesia beraneka ragam. Yang umum kita kenal tentu saja universitas, sekolah tinggi, dan institut. Ada berapa jenis perguruan tinggi di Indonesia? Apa perbedaannya?
Pasal 6 Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 60/1999 tentang Pendidikan Tinggi
-
Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi, yang dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas.
-
Akademi menyelenggarakan program pendidikan profesional dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian tertentu.
-
Politeknik menyelenggarakan program pendidikan profesional dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus.
-
Sekolah tinggi menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesional dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu.
-
Institut menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesional dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian yang sejenis.
-
Universitas menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesional dalam sejumlah disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian tertentu.
Dalam PP di atas, jenis dan perbedaan perguruan tinggi telihat jelas dari jumlah program pendidikannya. Tertulis jelas pula kata-kata “akademik dan/atau profesional”. Kata-kata itu yang mengusik keingintahuan saya.
Kalau universitas menyelenggarakan program pendidikan profesional, mengapa lulusannya sulit bersaing dalam dunia industri? Apakah metode keprofesionalan dalam universitas ditanamkan pada mahasiswanya
Biasanya para mahasiswa universitas diberi tugas yang lebih mengarah pada teori semata. Sangat jarang mereka mendapat tugas praktik yang berkaitan dengan dunia kerja mereka nanti. Mereka jarang dihadapkan dengan persoalan-persoalan yang nantinya akan mereka temui dalam dunia kerja.
Dibanding dengan institut, sekolah tinggi, maupun politeknik, persentase pendidikan akademik di universitas lebih banyak dari pendidikan profesionalnya. Di universitas, teori lebih dominan ketimbang praktik.
Jenis perguruan tinggi di luar negeri pun berbeda. Universitas (university) lebih menekankan riset. Bila penyelenggaraan pendidikan lebih condong pada pendidikan profesional, lembaga itu bernama University of Professional Education atau University of Applied Sciences. Di Belanda-karena dulu Indonesia dijajah mereka, jelas ada perbedaan antara universiteit (universitas) dengan HBO (hoger beroepsonderwijs/sekolah tinggi pendidikan profesional). Universiteit mengajarkan 80% teori dengan tujuan pembekalan riset bagi mahasiswa, sedangkan HBO mengajarkan teori hanya 60% dan sisanya praktik sekaligus pembekalan mahasiswa untuk terjun dalam dunia kerja.
Kembali pada PP di atas, kata-kata “dan/atau” pada ayat (6) inilah yang membingungkan karena kenyataannya universitas di Indonesia kurang menekankan pendidikan profesional bagi mahasiswanya. Ada baiknya status universitas lebih diperjelas kembali karena sampai saat ini, universitas lebih populer dari sekolah tinggi maupun akademi, yang justru kesempatan kerjanya lebih terbuka.
Bagaimana mahasiswa harus membekali diri di tengah persaingan dunia kerja? Apa yang harus dimiliki mereka?
________________
Artikel terkait: Rubrik Humaniora, Kompas Sabtu, 9 Februari 2008
“Makin Tinggi Pendidikan Makin Gampang Menganggur”Enschede0308 (c) Bhayu Prasetya
-



djunaedird 5:19 pm on 3 Maret 2008 | #
Perkembangan lulusan sarjana seperti deret ukur, sementara perkembangan lapangan kerja seperti deret hitung.
Jadi, yang bisa tertampung, HANYA SEBAGIAN KECIL SAJA. Itupun perlu perjuangan berat. Bahkan tak jarang haruys memakai uang pelicin dulu yang nilainya jutaan.
Tapi, itulah Indonesia kini.
infogue 9:40 am on 5 Maret 2008 | #
Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Nantikan segera plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi untuk Blogspot dan WordPress dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://infogue.com/pendidikan/jurang_antara_dunia_kerja_dan_pendidikan_1_/
AleAdr 11:07 am on 8 Maret 2008 | #
Sebuah komentar dan kritikan yang bagus. Cukup kritis dalam mengulas.
Harus diakui dunia pendidikan sekarang ini seperti ini. Bagaimana kita dapat mendatangkan solusinya?