KapurTulis

baiu

  • 01:02:26 pm on September 2, 2008 | # | 2
    Tag:, ,

    Keukenhof¹, 1 September 2008

    Untuk kasihku di seberang sana,

    Langit tak lagi menurunkan saljunya, hanya hawa dingin yang masih siap menerkam saat aku keluar rumah. Musim dingin dingin itu telah usai. Dan kini, kulihat lagi daun-daun di pepohonan yang kulintasi setiap ku melangkah. Burung-burung kecil pun mulai hinggap pada dahannya sambil mendendangkan kicaunya menyambut kembalinya sinar kehidupan.

    Oya, aku lupa, dirimu pasti bertanya kabarku. Jujur, aku tak sebaik yang mungkin kau kira. Ya, aku tak baik-baik saja. Setidaknya, yang kurasa, bukan yang kualami. Kau pasti heran mengapa. Aku pun tak bisa memberimu alasan langsung untuk pertanyaan itu. Tapi, selesaikanlah suratku ini dan kuharap kau tahu jawabnya.

    Aku duduk di sini, di bawah pohon di antara kumpulan bunga-bunga di taman ini. Aku sengaja menjauh dari mereka (aku datang ke sini dengan teman-temanku) untuk sejenak masuki jiwaku, mencari tahu yang kurasa saat ini. Saat ini aku tak kuasa mewadahi rasaku ini maka kuputuskan menyandarkan punggungku di salah satu pohon dan kutulis semua yang kurasa pada kertas ini. Hanya saja… maaf kalau matamu kewalahan membaca tulisanku.

    Hhh… sebentar ya, kuambil nafasku dulu…

    Baru saja kuhirup udara di musim semi ini bersama dengan wangi bunga yang sedang berseri. Kau tahu? Wanginya merasuk rongga hidungku, menyempitkan pikiranku pada satu hal: KAMU. Aku kecewa tak ada dirimu saat ini. Tapi aku tersenyum merasakan hadirmu. Aku kecewa tak bisa menggenggam tanganmu ketika kujelajahi taman ini. Tapi kubayangkan senyummu saat ini di sini.

    Hei, aku mau ajak kamu ke sini suatu saat. Yaa… mungkin kau berpikir ’suatu saat’ itu akan lama. Tapi kukatakan tadi sungguh-sungguh, aku berjanji untukmu. Dan kuingin kau simpan janjiku ini. Kalau perlu pergilah ke tukang fotokopi, bilang padanya untuk melaminating itu, dan kau simpan dalam dompet yang selalu kau bawa pergi-pergi.

    Saat jalan-jalan tadi, macam-macam kembang kulihat warna-warni. Yang utama, tentu saja tulip yang mejadi simbol negeri ini, meski sebenarnya sih bukan asli sini. Yaah… mengambil bibit, mengubahnya sedikit, dan memperbanyaknya lalu menganggap hasilnya sebagai produk asli itu sudah biasa kan. (Aku hanya bercanda dan aku sedang berbicara tentang bunga, bukan protes terhadap kepemilikan budaya lokal yang sedang jadi topik hangat belakangan ini. Toh, aku mengirimkan surat ini untukmu, jadi siapa yang mau tersinggung karena membacanya?)

    Kulanjutkan ya? Saat jalan-jalan tadi sempat kuambil beberapa foto untukmu – mungkin dengan foto itu bisa kaubayangkan taman ini, sampai aku benar-benar membawamu ke sini. Dan kulihat beberapa anak kecil berkejar-kejaran. Satu anak mencium salah satu bunga karena penasaran akan aromanya yang berbeda-beda pada tiap bunga. Tiba-tiba..

    “HHAAATCHII!!” nyaring sekali suaranya.

    Hahaha… rupanya serbuk-serbuk sarinya terhisap dalam hidungnya. Kutahan tawaku dan aku hanya nyengir saja. Tapi teman-temannya, pun dia, tertawa geli.

    Lalu kulihat kawanan burung yang saling berbalas-balasan lagu suka cita yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Kurasa semilir angin menerpa wajahku. Dingin, tapi tak sedingin hatiku. Anginnya membuat bunga-bunga itu bergoyang, memperlihatkan aneka macam warnanya.

    Ah, aku tak mampu lagi menceritakannya. Entah, aku pun bingung. Mungkin saja aku mulai larut karena terlalu dalam menjelajahi rasaku saat ini. Cukuplah aku cerita tentang taman ini. Aku ingin lebih menghanyutkan pikiranku padamu. Hanya padamu! Aku sudah janji di awal surat ini agar kau tahu bagaimana kabarku. Nanti kalau aku lanjutkan cerita ini, kau mengiraku bohong.

    Hhh.. kasihku,

    Tahukah yang kurasa saat ini? Andai dirimu di sini, di tempat ini, saat ini, aku cuma ingin genggam tanganmu, tersenyum pada wajahmu, menatap matamu tanpa suara, tanpa kata-kata. Biarkan saja sunyi. Yang kuingin, biarkan rasa dan hati kita yang bicara karena kata-kata dapat berbohong kapanpun namun perasaan tidak semudah itu.

    Kasihku, masihkah kau tunggu aku pulang untuk menemuimu? Masihkah kau begitu menginginkan aku untuk kembali. Kuharap dirimu mampu bertahan karena kau tak sendiri, aku pun ingin yang sama seperti inginmu. Kalaupun kau tak mampu lagi, aku ingin kau tahu bahwa inginku kan tetap ada. Aku akan tetap berjuang lewati semua ini meski sendiri karena aku percaya jalan yang kita tapaki ini tak selamanya berliku.

    Oya, tadi aku petik setangkai mawar merah. Ssttt… jangan bilang-bilang karena aku memetiknya diam-diam hanya untukmu. Kusertakan mawar ini dalam suratku utuh dengan duri-durinya. Meski mungkin rindumu tak terobati sepenuhnya, meski mungkin kamu akan mendapatinya telah kering karena keterlambatan pos di sana, biarlah. Kuyakin, harum mawar itu masih tetap bisa kau cium dan tak pernah hilang karena kutahu kau akan menyimpannya selalu dalam hatimu.

    Dari seorang yang mencintaimu dari kejauhan…

    Ik mis je². Ik hou van jou!³

    PS: Oya, maafkan aku kalau aku berbohong karena Keukenhof sebenarnya dibuka Maret-Mei dan musim semi pun telah usai. Jadi, maafkan aku kalau kata-kataku bohong padamu. Tapi siapa peduli? Toh, tulisan-tulisan ini adalah karanganku, permainan imajinasiku.

    Lagipula telah kukatakan bahwa kata-kata bisa berbohong tapi perasaan tidak. Jadi, kuminta kau pejamkan matamu, rasakan dengan hatimu, dan kuyakin kau akan jumpai hadirku dan mendengar ceritaku yang sesungguhnya.

    __________

    1. Tempat di Belanda yang terkenal dengan kebun bunganya. http://www.keukenhof.nl
    2. Aku rindu kamu
    3. Aku mencintaimu
    Enschede0908 (c) Bhayu Prasetya
     

Comments

  • florencia fredly floren_fredly@yahoo.co.id 3:11 pm on 2 September 2008 | #

    yupp…cerpen yg bagus yu…
    gw juga dalam perasaan spt itu…
    jd cocok jg buat mewakili hati gw..loe mang temen gw bgt yu..meskipun tuh cerpen bukan buat gw..hahaha..becanda!!

  • agepe 6:58 pm on 3 September 2008 | #

    Hm… comment pa ya…? Bingung nih. Karena ini cerpen personal. Ekspresi suara hati dan perasaan. So… untuk disebut cerpen sih sah-sah saja. Cuma kalo boleh sedikit berteori sih, sebuah cerita pasti punya plot (alur) itu yang pertama. Supaya jadi kisahan yg baik, maka harus ada bagian2 alur minimal ada puncaknya (permasalahan dan puncak persoalan atau klimaksnya). So… cerita ini kesan-ku (personal lho) datar2 saja.
    Menggambarkan perasaan sudah pasti (ini nilai plus cerita ini)
    Lepas dari semua itu, sah2 saja sih menganggap ini sebuah cerpen (cerita pendek), pa lagi cerita ini punya maksud bagi penulisnya. Dan lagi ada juga tuh yang lagi ngerasa hal yang sama (fl. fredly).
    Gitu aja ya Yu… comment-ku. sory ya kalo gak bisa comment spt yg diharapkan.
    Terusin deh nulis cerita yg lain, kalo ada waktu, boleh ko jalan2 utk mengapresiasi.
    salam dari chicago


Leave a Comment