Keukenhof¹, 1 September 2008
Untuk kasihku di seberang sana,
Langit tak lagi menurunkan saljunya, hanya hawa dingin yang masih siap menerkam saat aku keluar rumah. Musim dingin dingin itu telah usai. Dan kini, kulihat lagi daun-daun di pepohonan yang kulintasi setiap ku melangkah. Burung-burung kecil pun mulai hinggap pada dahannya sambil mendendangkan kicaunya menyambut kembalinya sinar kehidupan.
Oya, aku lupa, dirimu pasti bertanya kabarku. Jujur, aku tak sebaik yang mungkin kau kira. Ya, aku tak baik-baik saja. Setidaknya, yang kurasa, bukan yang kualami. Kau pasti heran mengapa. Aku pun tak bisa memberimu alasan langsung untuk pertanyaan itu. Tapi, selesaikanlah suratku ini dan kuharap kau tahu jawabnya.
Pernah teman-teman sedang di dalam angkutan kota (angkot) atau bus kota (kecuali TransJ? dan bus ber-AC) ketika tengah hari, panas terik, capai, dan di sebelah kalian ada orang yang asik merokok dengan santainya? Itu bukan hal yang janggal, kan?
Dulunya, tanaman kopi yang berasal dari Pulau Jawa, banyak diekspor ke luar negeri (1). Nah, tahun 1991-1995 sekelompok orang yang salah satunya adalah James Gosling sering berkumpul di kedai kopi untuk membahas proyek bahasa pemrograman mereka. Entah karena jenis kopi yang mereka minum atau karena istilah slang “coffee” (2), mulai saat itu, bahasa pemrograman itu terkenal dengan nama JAVA dan berlogo secangkir kopi hangat (3).

